Tag: pendapatan game MOBA

  • Pendapatan MOBA Tertinggi 2025, Siapa Yang Gamenya Paling Cuan?

    Pendapatan MOBA Tertinggi 2025, Siapa Yang Gamenya Paling Cuan?

    Memasuki tahun 2026, ada satu kebiasaan yang selalu menarik untuk dilakukan, menutup buku tahun sebelumnya dengan melihat pendapatan MOBA tertinggi sepanjang 2025. Untuk game live service, angka pendapatan bukan sekadar statistik. Di situlah terlihat apakah sebuah game masih sehat, mampu bertahan, dan punya fondasi kuat untuk melangkah ke tahun berikutnya.

    Naik atau turun itu wajar. Yang lebih penting adalah apakah sebuah game masih berada di zona hijau—cukup stabil untuk terus beroperasi, merilis konten, dan menjaga ekosistemnya tetap hidup. Data pendapatan yang dibahas di sini dirangkum dari AppMagic, Statista, serta beberapa sumber estimasi lain untuk game non-mobile. Hasilnya, cukup menarik dan di beberapa titik mungkin tidak seperti yang kamu bayangkan.

    1. League of Legends Masih Tak Tergoyahkan

    Kita buka dengan nama paling besar. League of Legends kembali menegaskan posisinya sebagai raja MOBA PC. Sepanjang 2025, estimasi pendapatannya berada di kisaran 1,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp30 triliun.

    Menariknya, Riot sendiri sempat mengakui bahwa League of Legends mulai kesulitan menarik pemain baru. Secara teori, kondisi seperti ini biasanya berdampak langsung pada pendapatan. Namun realitanya, skala LoL yang sudah terlalu besar membuat penurunan tersebut tidak langsung terasa signifikan.

    Rilis skin konsisten, event rutin, dan ekosistem esports yang masih solid menjaga aliran pemasukan tetap deras. Walau angka resminya biasanya baru dirilis beberapa bulan kemudian dan berbentuk estimasi, League of Legends jelas masih berada di puncak daftar pendapatan MOBA tertinggi menjelang 2026.

    2 .Wild Rift Mengalami Tekanan

    Berpindah ke adiknya, Wild Rift, ceritanya agak berbeda. Sepanjang 2025, game ini mengumpulkan sekitar 67 juta dolar AS atau Rp1,1 triliun. Angka ini turun dibanding tahun sebelumnya yang berada di kisaran 80 juta dolar.

    Penurunan sekitar 13 juta dolar memang bukan angka kecil. Namun, konteksnya penting. Riot terlihat mulai mendorong Wild Rift agar benar-benar berdiri sebagai game mandiri, bukan sekadar versi mobile dari LoL PC. Banyak konten baru—terutama skin—dibuat eksklusif untuk Wild Rift, dan ke depan Riot juga mulai bicara soal champion eksklusif.

    Perlu dicatat, angka ini belum sepenuhnya merepresentasikan pasar China, terutama dari sisi Android. Dengan potensi pasar sebesar itu, performa Wild Rift sebenarnya masih menyisakan ruang untuk naik kembali.

    3. Dota 2 Tetap Unik, Tetap Kuat

    Dota 2 selalu jadi pengecualian di industri. Valve tidak mengikuti pola live service kebanyakan, tapi tetap mampu menjaga pendapatan di level tinggi. Berdasarkan estimasi dari GameLictic, pendapatan Dota 2 sepanjang 2025 berada di kisaran 650 juta dolar AS, atau sekitar Rp10 triliun.

    Tahun 2025 terbilang relatif sepi untuk Dota 2, terutama dari sisi konten premium. Tidak adanya Battle Pass menjadi faktor utama mengapa angka ini tergolong rendah untuk standar Dota. Namun justru di situlah kekuatan Dota 2 terlihat. Tanpa dorongan monetisasi besar, game ini tetap mampu mencetak ratusan juta dolar.

    Jika Valve kembali merilis Battle Pass penuh di 2026, bukan hal mustahil pendapatannya bisa melonjak jauh lebih tinggi.

    4. Arena of Valor Masih Bertahan

    Arena of Valor mungkin berada di posisi terbawah dalam daftar ini, dengan pendapatan sekitar 48 juta dolar AS atau Rp803 miliar. Namun angka ini justru terasa mengejutkan jika melihat status gamenya yang kerap dianggap “tidak jelas arah”.

    Dengan basis pemain yang kuat hanya di beberapa negara, AoV tetap mampu menghasilkan pendapatan yang tidak bisa dibilang kecil. Ini menunjukkan bahwa meskipun skalanya menyempit, komunitas intinya masih cukup solid untuk menjaga game tetap hidup.

    Masuk 2026, ada sinyal bahwa Tencent ingin kembali memberi porsi konten original lebih besar. Jika rencana ini berjalan mulus, bukan tidak mungkin AoV bisa mencatatkan pertumbuhan ulang.

    5. Honor of Kings Raksasa Mobile yang Sulit Dikejar

    Dalam konteks mobile, Honor of Kings masih berada di kelasnya sendiri. Sepanjang 2025, game ini menghasilkan sekitar 1,6 miliar dolar AS atau setara Rp26 triliun.

    Angka ini memang sedikit turun dibanding tahun sebelumnya yang menyentuh 1,8 miliar dolar. Namun, penurunan tersebut hampir tidak berarti jika melihat skalanya. Apalagi, data ini belum sepenuhnya menghitung pemasukan dari Android China, yang berpotensi mendorong total pendapatan mendekati atau bahkan melewati 2 miliar dolar.

    Untuk pertama kalinya, kontribusi server global juga mulai terlihat sepanjang satu tahun penuh. Walaupun selisihnya masih jauh dibanding China, ini menjadi sinyal positif untuk ekspansi jangka panjang.

    6. Mobile Legends Masih Kuasai Asia Tenggara

    Terakhir, kita sampai pada Mobile Legends. Sepanjang 2025, game ini mencatatkan pendapatan sekitar 158 juta dolar AS atau Rp2,6 triliun. Ya, ini memang penurunan yang cukup terasa dibanding beberapa tahun sebelumnya.

    Namun penting untuk melihat konteksnya. Angka ini setara dengan pendapatan Mobile Legends di era pra-pandemi, sekitar 2019. Artinya, meskipun terjadi penurunan, game ini masih berada di level yang sangat aman secara bisnis.

    Bagi Moonton, hasil ini mungkin belum ideal. Tapi untuk mengatakan Mobile Legends berada dalam kondisi genting jelas berlebihan. Dengan basis pemain besar dan ekosistem esports yang stabil, Mobile Legends masih akan berjalan normal dalam beberapa tahun ke depan.

    Gambaran Besar Pendapatan MOBA Tertinggi

    Jika disusun secara ringkas, inilah gambaran pendapatan MOBA tertinggi 2025:

    • League of Legends — $1.8B / Rp30T

    • Honor of Kings — $1.6B / Rp26T

    • Dota 2 — $650M / Rp10T

    • Mobile Legends — $158M / Rp2.6T

    • Wild Rift — $67M / Rp1.1T

    • Arena of Valor — $48M / Rp803B